Showing posts with label piringan hitam. Show all posts
Showing posts with label piringan hitam. Show all posts

31 March 2012

White Shoes and the Couples Company Akan Rilis Piringan Hitam

White Shoes and the Couples Company (Foto: Facebook Page)
Kurang lebih satu setengah tahun berselang semenjak album kedua White Shoes and the Couples Company, Album Vakansi, dilempar ke pasar dalam bentuk CD oleh PuraPura Records bersama Demajors. Dan pada 10 April 2012 mendatang, versi piringan hitam dua belas inci dari album tersebut akan tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan panjang dari Amerika Serikat.

Minty Fresh Records selaku label rekaman White Shoes and the Couples Company di Amerika Serikat merupakan pihak yang mengirim dua ratus dari total seribu piringan hitam Album Vakansi ke Jakarta.

“Mereka cetak seribu keping, yang dikirim ke Indonesia sebanyak dua ratus. David Tarigan (PuraPura Records) dan David Karto (Demajors) beli putus dari Minty Fresh. Harga jual akan beda, kalau di Amerika Serikat 22 dollar AS, di sini Rp 270 ribu. Lebih mahal karena untuk menutup biaya shipping, bea cukai, dan segala macamnya,” jelas bassis Ricky Surya Virgana kepada Rolling Stone via telepon.

Ia lalu menyebut Monka Magic Vinyl dan Grieve Records Store sebagai toko di Jakarta yang akan menjadi tempat dijualnya album Indonesia terbaik nomor lima di tahun 2010 versi Rolling Stone tersebut. Selain itu, beberapa toko di Bandung dan Yogyakarta juga turut disebut oleh Ricky.

Hanya Monka Magic Vinyl yang akan menyediakan piringan hitam dua belas inci Album Vakansi sebanyak tiga puluh keping,sedangkan toko-toko lainnya hanya akan menjual sepuluh keping. Pesta peluncuran rilisan tersebut rencananya akan dilaksanakan di Aksara Kemang, tempat bernaungnya Monka Magic Vinyl.

“Tanggal digelarnya pesta peluncuran belum dipastikan, yang pasti April 2012. Untuk venue masih bingung sebenarnya, tapi kemungkinan besar sih di Aksara Kemang,” jelas Ricky.

Untuk di Jakarta, sistem pre-order akan ditiadakan agar para kolektor piringan hitam Album Vakansi dapat membelinya langsung di pesta peluncuran tersebut.

Ide perilisan piringan hitam Album Vakansi sendiri digagas Minty Fresh Records, walaupun sebenarnya pihak White Shoes and the Couples Company sudah pernah menyarankan agar album perdana mereka dirilis dalam format yang kembali booming itu.

“Gue sudah pernah menawarkan album pertama untuk dirilis dalam format piringan hitam, tapi mereka tidak yakin. Kali ini mereka yang tiba-tiba mengajak, apalagi terbukti kalau di sini demand-nya bagus. Banyak banget yang menghubungi gue untuk pesan,” kata Ricky.

Mengenai kualitas audio, Ricky menjelaskan, “Lagu-lagu pada Album Vakansi di-mix ulang untuk rilisan ini. Yang mengerjakan dari pihak Minty Fresh dan kebetulan gue sudah dengar dua lagu; kualitasnya memuaskan, jauh lebih bagus dari CD. Padahal yang dipakai bukan bahan paling bagus, terlalu mahal kalau itu.”

Tidak hanya pada kualitas suara, artwork pun juga mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan bujet. “Di sana percetakan mahal, jadi ada sedikit perubahan untuk artwork agar sesuai dengan bujet. CD album perdana kami versi rilisan Minty Fresh pada 2007 juga begitu,” imbuhnya.

Selain itu, Ricky juga sempat mengatakan rencana Desinee Records, label rekaman yang menaungi White Shoes and the Couples Company di Jepang, untuk ikut merilis White Shoes and the Couples Company dan Skenario Masa Muda dalam format colored vinyl alias piringan berwarna.

Minty Fresh Records sendiri merupakan label rekaman yang pertama kali merilis album The Cardigans di Amerika Serikat dan single perdana penyanyi dan penulis lagu wanita Liz Phair. Mereka juga menaungi Ivy, The Legendary Jim Ruiz Group, Suburban Kids with Biblical Names, Tahiti 80, hingga meroketkan nama Veruca Salt.

26 February 2012

Superman is Dead Segera Rilis Kumpulan Lagu Terbaik dalam Format Piringan Hitam

Superman is Dead (Foto: Reno Nismara)
Jakarta - Entah sudah berapa lama sejak label rekaman besar Indonesia merilis album dalam bentuk piringan hitam. Kepraktisan CD membuat piringan hitam dilupakan, padahal menurut banyak pengamat musik, kualitas suara yang dihasilkan piringan hitam ada di atas CD. Atau mengutip kata Jerinx, drummer Superman is Dead: “Lebih manusiawi.”

Bertempat di kantor Sony Music Entertainment Indonesia, ia bersama rekan bandnya, vokalis dan gitaris Bobby Kool serta bassist Eka Rock, mengundang sejumlah media untuk berdiskusi perihal album kumpulan lagu terbaik trio punk asal Bali tersebut yang akan dirilis Sony dalam format piringan hitam.

“Superman is Dead punya ide untuk merilis album dalam bentuk vinyl yang langsung kami setujui. Setelah sekian lama, grup atau musisi Indonesia sudah tidak pernah rilis piringan hitam lagi. Yang jadi masalah, vinyl dan alat pemutarnya kini merupakan barang langka. Dan apa yang digagas Superman is Dead ini merupakan hal positif,” terang Jan Djuhana selaku petinggi Sony cabang Indonesia.

Ia melanjutkan, “(Piringan hitam) ini akan menjadi collector’s item. Belum tentu Outsiders (sebutan bagi penggemar Superman is Dead) yang beli nanti punya alat pemutarnya. Jadi mereka senang dengan apa yang mereka miliki, karena dibuat limited, tidak sampai seribu kopi. Intinya, pihak Sony bangga dapat merilis piringan hitam untuk artis Indonesia setelah sekian lama.”

Lagipula, lanjut Jan, Superman is Dead adalah salah satu band paling berpengaruh di Indonesia yang penjualan albumnya terus mencatat prestasi bagus bahkan hingga saat ini ketika penjualan fisik sedang lesu.

Jerinx lalu menjelaskan bahwa obsesi Superman is Dead merilis piringan hitam adalah untuk mendokumentasikan tujuh belas tahun karier mereka dalam sebuah bentuk karya yang layak dikoleksi dan sekaligus mengikuti jejak band-band legendaris yang mereka gandrungi.

“Analoginya, piringan hitam ini adalah album foto spesial. Di antara tumpukan album foto, pasti ada satu album foto yang benar-benar spesial. Kami pilih foto-foto terbaik untuk piringan hitam tersebut. Kami benar-benar memikirkan penggarapannya secara matang, mulai dari artwork, foto-foto yang dicantumkan, hingga desain pop-up yang meramaikan packaging-nya,” ujar Jerinx panjang lebar menjelaskan.

Walau begitu, ketiga personel Superman is Dead mengaku tidak mendengarkan lagu melalui piringan hitam. Jerinx dan Eka memang memiliki beberapa piringan hitam untuk album-album yang mereka sukai, namun hanya sebagai pajangan saja karena tidak memiliki alat pemutarnya. Sementara Bobby sama sekali tidak menyentuh format itu.

Sampul depan piringan hitamnya sendiri menggunakan foto tiga pemuda Pulau Dewata yang diambil pada tahun 1977, tahun yang sering disebut sebagai “the year punk broke”. Namun Jerinx mengakui bahwa ia tak berpikir sejauh itu, walau korelasi tersebut masuk akal. Ia malah menyebut bahwa itu adalah tahun kelahiran dirinya dan Eka, sementara Bobby mulai menghirup udara Bumi dua tahun lebih dulu dibanding dua rekannya.

Tajuk album kumpulan lagu terbaik tersebut tidak diperkenankan bocor oleh Jerinx, karena merupakan bentuk kejutan yang Superman is Dead berikan untuk manajer pertama mereka, Rudolf Dethu.

Adapun jumlah lagu yang tercantum pada album tersebut hanya delapan, yaitu “Old World”, “Get in Touch”, “Kuta Rock City”, “Hanya Hari Ini”, “Lady Rose”, “Bukan Pahlawan”, “Pulang”, dan “Jika Kami Bersama”. Jumlah lagu yang sedikit ini disebabkan oleh durasi yang terbatas. Namun Superman is Dead meyakinkan bahwa lagu-lagu yang telah dipilih paling mewakili karier mereka.

“Proses pemilihan lagu itu sangat stressful. Kami punya banyak lagu, tapi album itu hanya dapat diisi dengan delapan lagu. Sementara setiap personel memiliki pilihan yang berbeda-beda. Setelah proses panjang, akhirnya terpilihlah delapan lagu yang dirasa paling mewakili kami bertiga,” tambah Jerinx.

Terdapat dua lagu dari album tersebut yang direkam ulang oleh Superman is Dead, yaitu “Old World” dan “Get in Touch”. Perekaman ulang itu harus dilakukan karena materi aslinya yang sudah hancur terserang jamur. Walau begitu, Eka menjelaskan kalau mereka tetap mempertahankan esensi-esensi yang ada di versi lama lagu itu, salah satunya esensi noise.

Rencananya, piringan hitam tersebut akan mulai dijual pada Maret 2012 seharga Rp 350 ribu melalui sistem mail order dengan memanfaatkan jejaring sosial sebagai alat promosi efektif. Proses produksi packaging album tersebut dilakukan di Jakarta, sementara piringan hitamnya sendiri dicetak di Belanda.

Rolling Stone : http://rollingstone.co.id/read/2012/02/23/163557/1850101/1093/superman-is-dead-segera-rilis-kumpulan-lagu-terbaik-dalam-format-piringan-hitam